Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

MALAM DI SURAMADU, ROMANTIS ATAU NEKAAAADZ

Jumat, 30 Agustus 2013 | 0 komentar



Waktu  itu bulan melengkung sempurna, bulan di awal bulan Oktober, bintang pun penuh di langit malam. Rasanya pemandangan seperti itu akan membuat suasana menjadi romantis. Harusnya, tapi tidak untuk kami berdua,  saya dan seorang teman, dua orang cewek maniez :P.

Malam itu kami berdua tengah berada di kaki jembatan Suramadu, jembatan di atas selat Madura, terpanjang di Indonesia (5.438 m) yang menghubungkan antara kota Bangkalan, Pulau Madura dan Surabaya (Pulau Jawa). Kami akan kembali menuju Surabaya dengan perasaan yang mulai ketakutan.

Masih jam setengah delapan  malam, tapi rasanya sudah tengah malam, benar-benar tidak pernah kami duga. Jangan membandingkan kota besar dengan kota kecil. Di Jakarta jam 8 malam masih gegap gempita, sorak-sorai bergembira, jalanan masih padat merayap.

Eh, tadi saya bilang mulai ketakutan ya, sebenanrnya ketakutan kami sudah mulai sebelum ini, saat selesai menunaikan sholat Maghrib di Masjid Agung Bangkalan, Madura.  Banyak jamaah yang bertanya-tanya melihat ransel besar yang kami bawa, dari mana, tujuan mau ke mana. Dan kami pun jawab bahwa tujuan mau kembali lagi ke Surabaya melalui jembatan Suramadu. 

Perkataan selanjutnya mengejutkan kami, bahwa  bus ke Surabaya yang melewati jembatan Suramadu terakhir pukul 7 malam. Ditambah dengan pernyataan yang diucapkan dengan logat Madura, “ Kok berani sampean cuma berdua, tidak ada saudara disini, hati-hati saja di dekat Suramadu ada banyak  kejahatan, bisa rampok, bisa pemerkosa.”

Duiiiing.

Saya dan Susi cuma bisa pandang-pandangan. Ngeri juga ya kata-kata di belakangnya itu, pemerkosa. Ini trip pertama saya juga Susi, baru juga sampai Madura,  jangan sampai berakhir tragis. Tapi saya rasa ibu-ibu ini serius, karena memandangi saya dengan khawatir.

“Menginap saja malam ini,” Ibu itu menawarkan. Hanya saja besok kami sudah punya jadwal, pagi-pagi sekali kami akan bertolak dari Surabaya (rumah teman) menuju Probolinggo dan terakhir akan ke Gunung Bromo. Saya pun menceritakan jadwal saya tersebut.

“Ya cepat berangkat, nanti kehabisan bis, colt pun sudah jarang kalau sudah malam. Kalian ini nekad.”

Duinggg.

“Hati-hati di jalan,” suara mereka menghantarkan kepergian kami. Masjid Agung Bangkalan dan jamaahnya yang hangat.

Dan benar saja keluar dari masjid jalanan sudah sepi. Toko-toko Batik Madura yang berjejer di sekitar Masjid sudah tutup, Gelap. Tempat makan pun sudah tidak ada. Wah sudah tidak terpikir lagi makan, yang terpikir hanya bagaimana bisa sampai jembatan Suramadu dan selamat sampai Surabaya.

Lumayan lama kami menunggu colt, sebutan untuk angkutan di Madura.  Sepertinya cuma kami berdua yang ada di jalan saat itu. Sempat terpikir apa kami tidak usah kembali ke Surabaya melalui Suramadu, mengingat perkataan ibu-ibu tadi. Lebih baik kembali ke Surabaya dengan naik kapal fery seperti yang kami lakukan tadi. Kami menimbang-nimbang, dan keputusannya adalah colt pertama yang datang, mau yang ke Suramadu atau ke Pelabuhan Kamal, itulah yang akan kami naiki, takdir kami ada di tangan colt.

Akhirnya datang juga colt yang ke arah kiri, itu berarti menuju jembatan Suramadu. Kami pun sedikit lega dan langsung masuk ke dalam. Sudah beberapa menit jalan kami menanyakan apakah colt ini akan menuju jembatan Suramadu, dan jawabannya tidak karena sudah malam.

Duuuuuuh, ada –ada saja perjalanan kami ini. Kami pun bertanya-tanya pada supir mengenai kemungkinan angkutan bisa membawa kami ke Surabaya hingga satu-persatu penumpang turun dan akhirnya tinggal kami berdua dan pak supir. Deggg, jalanan pun mulai gelap.

Entah apa yang saya rasakan dirasakan pula oleh Susi yang pasti kami berpandang-pandangan. Perasaan saya mulai macam-macam karena tinggal kami berdua dan pak supir.

Tiba-tiba Pak Supir menawarkan untuk mengantarkan kami menuju Suramadu. Kami kembali berpandangan. Lanjut Pak Supir, nanti kami tinggal menambah ongkosnya saja. Mendengar kalimat Pak Supir, saya sih berkesimpulan Pak Supir ini baik, kalau berniat jahat untuk apa meminta ongkos lagi, kan bisa saja dia mengeluarkan kata-kata manis kemudian tas kami dirampas.

Kami pun mengiyakan tawaran Pak Supir dengan senang hati. Di sepanjang perjalanan kami pun mengobrol, yang banyak bertanya adalah si Bapak tentang beraninya kami bepergian hanya berdua dan perempuan pula. " Kalian berdua nekad, tidak takut pergi berdua." katanya dengan logat Madura.

Lagi-lagi kalimat nekad yang terucapkan. Entahlah sebenarnya ini nekad atau bukan namun sudah banyak yang mengucapkan kalimat ini mulai dari kaki kami menjejak di Surabaya dan bertambah banyak ketika sampai di Madura. Saya juga tidak menyangka karena masih di Pulau Jawa, tapi ternyata perjalanan kami lumayan beresiko. 

Saya jelaskan pada pak Supir kalau kami dari Surabaya, mau jalan-jalan di Madura dan merasakan jembatan Suramadu terpanjang di Indonesia yang indah di waktu malam. Namun
yang sebenarnya, kami ini bukan berasal dari Surabaya. Saya dari Jakarta dan Susi dari Lampung. Tujuan utama mau ke Gunung Bromo, meeting point dengan teman-teman lain di Surabaya jam 4 pagi, karena tidak mungkin sampai sepagi  itu dari Jakarta, maka kami memutuskan untuk sampai Surabaya sehari sebelumnya. Beruntungnya kami dapat tiket promo kereta eksekutif yang hari biasa seharga 300 ribu, kami dapatkan hanya seharga 100 ribu.

Di Surabaya, kami keliling hanya berdua, karena mau merasakan yang namanya backpacker seperti apa, merancang perjalanan sendiri tanpa agent travel, tanya sana-tanya sini. Karena baru pertama kali menginjakan kaki di Surabaya dan tidak banyak browsing internet sebelum ke Surabaya, yang ada di daftar hanyalah ke Masjid Ampel, House of Sampurna dan bisa ikut tour kotanya, dan terakhir menyeberang ke Pulau Madura. Semua berjalan lancar dengan bantuan orang-orang yang kami temui di jalan, mulai pejalan kaki, supir-supir angkot, sampai Pak Polisi, sampai-sampai disangka kami turis dari Malaysia. Dan satu yang selalu saya ikuti adalah nasihat seorang ibu di masjid Ampel, bahwa kami jangan bilang dari Jakarta, mungkin karena konotasi orang Jakarta pasti banyak uang dan nanti akan mengundang banyak orang untuk berbuat jahat, maka selama perjalanan sampai Madura, jika ada yang bertanya kami bilang dari Surabaya. Entah mereka percaya atau tidak, karena kok orang Surabaya tidak ada yang bisa bahasa Jawa. Kalau ditanya hanya  ketawa-ketawa saja. Nekad

Akhirnya sampai juga kami di Jembatan Suramadu. Terima kasih sekali pada pak Supir.
Sepeninggal Pak Supir, kami tingal berdua, meskipun bulan sabit indah, tapi tidak menambah penerangan sama sekali. Tiba-tiba saya merasa ingin sekali buang air kecil. Di belakang saya ada sebuah gubuk, tapi gelap sekali. Di pikiran saya bukan lagi ada pocong, kuntilanak, genderuwo, bahkan suster ngesot. Yang ada di pikiran hanyalah pemerkosa seperti yang dibilang ibu-ibu tadi. Tidak henti-hentinya saya berdoa dari tadi.


gelapnya Suramadu, kamera cuma bisa menangkap ini

Tiba-tiba ada motor yang melintas dan berhenti di depan kami. Ketakutan pun menyerang  sehingga kami agak saling merapat. Untunglah setelah penumpang itu turun, kami meyakini bahwa mereka bukan orang jahat melainkan sepasang suami istri yang akan kembali ke Surabaya. Kembali mereka yang bertanya kemana tujuan kami dan kenapa cuma berdua, perempuan lagi. Kami terus berbincang sampai akhirnya ibu itu pun mengeluarkan makanan. Tidak niat meminta cuma bertanya buah apa yang dimakan, namun ibiui itu bersikeras untk memberikan sekantong plastik buah yang bernama Siwalan atau buah lontar. Jujur kami memang lapar, trakhir makan ya sarapan tadi pagi di stasiun pasar turi.

Sampai akhirnya ibu dan bapak itu pergi kami pun ditinggal sendiri. Lama bus tidak datang, yang lewat kebanyakan mobil pribadi ataupun truk. “Apa kita numpang truk aja ya,” usulku, daripada ketakutan disini.

“Jangan, pesannya kita jangan menumpang apapun yang berplat nomor hitam, bahaya.” kata teman mengingatkan pesan teman dari Surabaya yang selalu memantau keberadaan kita.

Namun terlambat tangan saya sudah seperti memberhentikan truk yang kebetulan lewat. Saya kira truk tersebut acuh namun nyatanya truk itu berhenti kurang lebih lima meter di depan, dan penumpangnya pun memanggil kami. Langsung saja kami pura-pura melihat ke arah lain, sampai truk itu pun pergi.

Akhirnya bus yang ditunggu pun datang, setelah meyakini bahwa tujuannya adalah Surabaya, kami pun naik. Saya menyiapkan ongkos 3 ribu rupiah sesuai petunjuk teman Surabaya, namun yang diminta adalah 30 ribu untuk 2 orang. Wow.

Selama perjalanan kami pun Nekad, ngotot- ngototan ongkos dengan kenek bis sampai akhirnya spot yang paling bagus untuk mengambil foto di jembatan Suramadu lewat di depan mata, dan kamera saya masih di dalam tas. Saya pun mengela nafas panjang dan menahannya kembali sampai keindahan itu hilang begitu saja di depan mata.

Harusnya kan malam ini kita santai sambil menikmati indahnya jembatan Suramadu. Kami pun hanya bisa tertawa-tawa. Sampai akhirnya bus ini berhenti di terminal bungur asih. Akhirnya kami tiba di Surabaya dengan selamat.

Penasaran dengan tarif bus, saya bertanya pada  seorang ibu berapa tarif yang beliau bayarkan Jawabannya adalah 25 ribu, kembali kami berpandang-panfangan. Dalam hati awas saja kalau ketemu dengan teman baru yang dari Surabaya itu. Gara-gara info tarif bus 3 ribu kami adu otot dengan kenek bus dan tidak bisa menikmati indahnya Suramadu di waktu malam, padahal kan itu tujuan kami nekad-nekad kemari

Entahlah ini romantis atau nekad, tapi terkadang sesuatunya datang tanpa diprediksi, kita harus berpijak dengan adat masyarakat setempat.
Dan saya hanya ingin berjalan, berjalan, dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan untuk menjadikan diri lebih baik lagi.



air di Masjid Sunan Ampel yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, lumayan irit beli air

nyebrang dengan fery nyaman, hanya 15 menit, ongkos Rp 3.700,-
disangka turis dari Malaysia
Masjid Agung Bangkalan yang hangat
ketawa-tawa dengan ibu ini di Masjid Agung Bangkalan. Baru dikasih tahu kalau ibu ini agak gila

supir yang baik, sempat juga antar kami belanja batik. Nekad



http://telkomsel.com/nekadtraveler

http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=gOapKcqdcGM

Motif Batik Tegal

Senin, 29 April 2013 | 0 komentar


Motif Batik Tegal

Ibu Turinah menjelaskan tentang batik tegalan, terutama motif khas. Batik yang dihasilkan di Dukuh Salam ini berwarna gelap seperti soga (coklat), karena pada awalnya Batik Tegal mendapat pengaruh dari batik Keraton atau batik Solo, seperti Batik dibawah ini yang dikenal dengan motif Parang Angkik.

Selain itu, motif-motif Batik Klasik Tegal lainnya adalah Tapak Kebo, Beras Mawur, Galaran, Gribigan, Dapur Ngebul. Lucu-lucu ya namanya, sayang saya tidak bisa mendapatkan gambar motif tersebut, karena baru saja tadi pagi, diambil untuk dijual di toko, tapi saya bisa membayangkan bagaimana motif itu dari penggambaran Ibu Turinah. Penamaan motif tersebut disesuaikan dengan keadaan Tegal pada saat itu yang masih berupa padang yang kosong. Motif Tapak Kebo menggambarkan aktifitas masyarakat Tegal yang sedang membuka persawahan atau perladangan dengan dibantu kerbau untuk membajak tanahnya, jadi di batiknya melukiskan tapak kerbau. Motif Parang Angkik menggambarkan persawahan yang sudah ditumbuhi tanaman dan terdapat burung yang mengganggu tanaman.

motif Parang Angkik

Ketika saya tanya motif Beras Mawur, ternyata motif tersebut tidak diproduksi di Dukuh Salam. Jadi banyak daerah di Tegal yang memproduksi batik. Selain Dukuh Salam, ada daerah Pasangan, daerah ini yang memproduksi batik Beras Mawur, yang nitik batiknya memang seperti beras yang tersebar. 

Diantar oleh Ibu Upik yang dengan senang hati menemani saya akhirnya saya sampai ke desa Pasangan. Daerah Pasangan memiliki motif yang berbeda dengan Dukuh Salam, Batik Pasangan lebih berwarna, seperti batik pesisir, karena memang wilayahnya yang dekat dengan laut. Wow masih di satu daerah Tegal, tapi terdapat motif yang beraneka ragam.
motif pesisir lebih berwarna


Nah Batik yang ditunjukan oleh Ibunya Kepala Desa itu namanya motif Pisang Bali, berasal dari daerah lain  di Tegal ini yang bernama Talangan.  Entah mengapa dinamakan demikian mungkin karena Talangan ada hubungan kekerabatan dengan Bali, hehehe

Ada lagi Batik yang biasa digunakan oleh pengantin tegal, yaitu motif Sawudren, Daun yang dikelilingi garis yang tidak terputus, mengandung filosofi agar rejeki pengantin tidak pernah putus.


motif  Sawudren

Proses Pembuatan Batik Tegal

Prosesnya sama saja dengan membuat batik lainnya, dengan menggunakan canting dan malam, karena ini batik tulis. Pikiran saya pun melayang pada para pembuat Batik di Solo.

Lalu setelah kain diberi malam, dilakukan proses pewarnaan. Ada beberapa tahapan proses pewarnaan, tergantung warna yang ingin dihasilkan. Jika warna dasar selesai dibuat, malam dikerat menggunakan seng, dan kemudian dilakukan proses warna selanjutnya.

batik selesai dicanting, diproses 1 warna, kemudian warna selanjutnya
Duuh Senangnya ini , traveling yang mengasyikan, belajar tentang budaya Indonesia dan menemukan bahwa di Tegal juga terdapat batik. Bagi saya yang awam tentang batik ini adalah hidden Treasure. 

Selesai berjalan-jalan di perkampungan Batik Tegal, saya pun menyicipi soto Khas Tegal. Khas lho karena menggunakan tauco sebagai campuran kuahnya. Maknyusss.

Upps balik lagi ke batik.

Seiring dengan perjalanan waktu dan modernisasi. Penjualan batik juga mengalami modernisasi. Batik-Batik Tegal ini tidak hanya dijual di toko batik juga dijual dengan sistem online, menggunakan media social. Ini memudahkan semua orang bisa berbatik dan lebih mengenal tentang batik. Seperti juga halnya dengan Berbatik, sebuah butik Batik yang tidak hanya menjual Batik online, tapi juga memberikan pengetahuan tentang batik.

Kalau tidak kita yang melestarikan Batik, siapa lagi. Jangan sampai warisan budaya yang bernilai sejarah tinggi ini diklaim lagi milik Negara lain lagi.

Nah untuk kamu yang mau pesan batik tulis tegal nan indah bisa hubungi Batik Tegal: 085742086663, 085280704957 (mbak iim)

Oleh-oleh Bali

Senin, 15 April 2013 | 0 komentar

Ini panduan buat kamu yang mau ke Bali, terutama buat yang tau temennya mau ke Bali tapi bingung mau nitip oleh-oleh apa.

Oleh-oleh Bali beserta hargaya, jadi kamu bisa sekalian titip oleh-oleh teman yang mau ke Bali, itu kalau dia mau direpotin ya... hehe








Adventure of Sempu Island



Family of Sempu


 


She's 4 years old Mt Hiker

Pertama kenal anak ini di Ranu Kumbolo, lebih tepatnya bukan kenalan langsung tapi tahu dari wall post FB nya Bang Andry yang baru mendaki Semeru. 

Amazing. Itu kata tanggapan pertama saya, karena bisa melihat anak kecil disana dan dia baru umur 4 tahun. Perlu diketahui Ranu Kumbolo adalah bagian dari pendakian Gunung Semeru, danau yang ketinggiannya 2400 mdpl, waktu tempuh perjalanan dari base camp Taman Nasional Bromo Semeru 3-5 jam. Secara juga saya belum kesana waktu itu dan selalu ditakut-takutin kalau mau ke Semeru, " memangnya kamu bisa?



Annaquita Syafitri Darmawan, saat mendaki semeru usianya baru 4 tahun. Saya pikir Naqt cuma sampai Ranu Kumbolo, tapi ternyata sampai juga ke Kalimati, Arcapada, dan terakhir Batas Vegetasi yang kemiringannya sudah mencapai 60 derajat. Kereeeeeen.


Naqt di Batas Vegetasi, Gunung Semeru

Sampai nggak Naqt sampai puncak Mahameru (ketinggian 3676 mdpl)puncak tertinggi di pulau Jawa??? 
Jawabannya, kalau mau diterusin pasti sampai, dan Naqt nya pun minta sama bundanya tetap keatas, tapi ada batasan mendaki di puncak, kalau sudah jam 9 pagi, dilarang untuk sampai puncak karena asap Belerang sudah meninggi, mau nekat, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Meskipun nggak sampai pucak 2 jempol buat Naquita. Masalahnya saya sendiri belum sampai sana saat itu.

Naqt in Mt. Rinjani (Lombok)

Pendakian Naqt yang ketiga adalah Gunung Rinjani, lho kok ketiga. Ternyata pendakian pertama Naq adalah Gunung Gede (Jawa Barat), kedua Semeru (Jawa Timur), dan Ketiga adalah ini, Gunung tertinggi di Pulau Lombok dengan ketinggian 3.726 mdpl. Lebih tinggi dari Gunung Semeru. Dan katanya sih disebut sebagai gunung yang indah se Asia Tenggara.

Naqt sampai nggak di Puncak. Kata bundanya Naqt, tinggal 1 tikungan lagi, Naqt nya minta turun, mau main pasir di bawah. Gemes, karena sudah jauh-jauh kesini Naqt nya nggak mau. Tapi sebagai bunda yang baik kan nggak bisa memaksakan kehendak anaknya... cieee. 

Naqt in Mt. Lawu (Cenrral Java)
Coba tebak ini foto Naqt dimana??
Ini foto di puncak Gunung Lawu. Akhirnya Naquita sampai puncak gunung.*backsound suara tepokan, suara terompet, petasan, klakson mobil, orang lagi nyapu, ikan bernyanyi, teletubies berjoget.
Lawu adalah puncak pertama  Naqt.

Naqt with her Pap n Ma, Mr. Ary Darmawan, n Mrs. Hermin Setyocahyani in Mt. Merapi (Central Java)

Ini nih kedua orang yang jeblosin Naqt naik gunung, Ayah n Bundanya Naqt. Sebenarnya kan yang mau naik gunung merekanya. Iya apa iyaaa??

Dan Gunung kelima Naqt sekaligus puncak kedua Naqt adalah gunung Merapi. Naqt sampai puncak lagi lho di gunung yang baru saja mengerupsi.

Wow Naqt keren deh. Kamu tuh memang pendaki cilik.

Naqt is not in Mount. So different!
Annaquita Syafitri Darmawan in Mount


* Salam untuk Bubun Hermin n Papap Ary Darmawan

Wiskul: Nasi Megono & Garang Asam Khas Pekalongan

Rabu, 03 April 2013 | 0 komentar

Kuliner khas dari kota Batik Pekalongan adalah Nasi Megono, yaitu nasi putih biasa yang dicampur dengan cacahan nangka muda yang ditumis dengan kelapa parut, hampir mirip dengan urap.

Saya menemukan makanan ini di alun-alun Pekalongan, sambil bertanya-tanya saja ke para penjual tentang makanan khas dari Pekalongan dan ditunjukanlah makanan ini, karena memang hanya ditemukan di daerah Pekalongan dan Batang

Selain Nasi Megono, kuliner khas Pekalongan adalah Garang Asam. Makanan berkuah yang isi utamanya adalah kikil, lalu diberikan cabe rawit utuh, rasanya memang asam-asam sama seperti namanya, tapi segar. Nah yang seperti ini memang garang asam versi Pekalongan

Untuk harga seporsi Garang Asam, saya dikenakan harga Rp 12.000, dan Nasi Megono Rp 2.000 (karena cuma porsi setengah)
Sempat kaget sih kok mahal ya Garang Asam, padahal porsinya nggak banyak. Saya lupa dengan tips kalau mau makan di daerah harusnya bertanya dulu tentang harga, jadi tidak diketok harganya. :)

Dan Soe Hok Gie pun Berbicara Tentang Senja

Kamis, 28 Februari 2013 | 0 komentar

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.
Aku datang kembali ke ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam dinginmu.

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna.
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan.
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.

Aku cinta padamu,Pangrango yang dingin dan sepi.
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu adalah misteri segala cintamu.
Dan cintaku adalah kebisuan semesta.

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi.
Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua.

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar.
Terimalah dan hadapilah.”

Dan antara ransel-ransel yang kosong dan api unggun yang membara, aku terima semua itu.
Melampaui batas-batas hutanmu.
Melampaui batas-batas jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango.
Karena aku cinta pada keberanian hidup.




 
Copyright © -2012 Alamat Senja All Rights Reserved | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks