Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Nonton Cinta Suci Zahrana & Perahu Kertas Cuma Sepuluh Ribu

Jumat, 31 Agustus 2012 | 2 komentar


Senja di hari Selasa, 

Sebenarnya sudah lama tahu dan penasaran ketika melihat di Koran harga tiket film di sebuah bioskop Jakarta, yaitu sepuluh ribu rupiah. Penasaran kan. Yang benar aja.
Sempat nyari-nyari tahu juga sih kok bisa harganya setengahnya dari XXI, jangan-jangan filmnya juga setengah, hehehe.
Dapatlah info, kalau bioskopnya nggak bagus-bagus amat, suka ada tikusnya, dan yang nonton disana tuh pembantu-pembantu rumah tangga gitu, kata Tamara yang rumahnya dekat dari bioskop itu dan info itu juga katanya karena dia juga belum pernah kesana.

Jadi penasaran lagi ketika mbak Eva, teman trip Baduy nonton Ice Age 3D disana dan katanya baik-baik saja. Baiklah daripada tambah penasaran mending didatangi itu tempat.
Tidak terlalu sulit mencari bioskop yang bernama Bioskop Buaran  di daerah Buaran dan saya pun tidak nyasar. Bioskopnya tidak dicampur dengan mall.

Saya memasuki bioskop yang Nampak kelihatan tua, dan langsung teringat akan tiket sepuluh ribu rupiah, wajarlah.
seperti kupon PMI
 Ternyata sudah dimulai film Cinta Suci Zahrana, cepat-cepat membeli tiket di loket dan disodorkan tiket yang bentuknya seperti kupon PMI. Wajar sih sepuluh ribu, kata saya dalam hati lagi.
“Tempat duduknya mbak?” tanya saya.
“Terserah mau duduk dimana saja.” Kata si mbak penjual karcis.
Hihihi penasaran juga.
Masuk ke tempat pemutaran filmnya, layaknya bisokop lain, bangku yang bersusun warna merah dan layar besar di tengah-tengah. AC ada kok  meskipun tidak kencang. Suasana di dalamnya sepi, Kenapa ya? apa karena filmnya nggak bagus, apa memang karena tempatnya nggak begitu terkenal. Saya langsung mengamati satu persatu yang menonton disana, sesuai nggak sama info yang saya dapat. Dan jadi mikir yang nggak-nggak, kalau sepi gini jangan-jangan bisa dijadiin tempat mesum.

Di depan bangku saya ada 2 orang cowok kayaknya sih masih kuliah atau jangan-jangan masih SMA, nggak mungkin juga kan mereka lagi pacaran disini, di bangku seberang sana ada keluarga yang menonton, malah saya tidak menangkap tampang PRT yang menggerombol disana.

Saya pun menikmati film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul sama. Disutradai Chaerul Umam. Agak nggak konsen nonton filmnya, karena banyak sms &bbm masuk. Tapi jujur filmnya gampang ditebak apalagi kalau yang sudah baca novelnya. Jadinya terasa datar-datar saja filmnya. Jadi ingat dengan pernyataan orang-orang yang suka kecewa kalau menonton film yang diadaptasi dari novel karena berbeda dari novelnya. Film ini benar-benar sama dengan novel  tapi malah jadinya terlihat datar, hanya beberapa adegan yang beda.

Nilai plusnya adalah kalimat-kalimat baik yang disuguhkan dalam novel ini, tentang kesyukuran, ketabahan. Dialoh-dialognya menagingatkan penonton untuk selalu bersyukur.
"Bertakbirlah saat suka dan susah"
"Ibumu bisa tegar menghadapi cobaan, bukan karena dia pandai tapi karena bertaqwa."

Dan ketika tiba di adegan pamungkas yang seharusnya membuat penonton menangis karena memang dibuat dengan sedramatis mungkin dengan alunan soundtrack yang menyentuh, saya justru malah ketawa. Karena backsound orang yang tidur ngorok di belakang saya lebih kencang. Sumpah kencang amat.

Dan saya bisa mendapatkan 2 film dengan 1 tiket XXI, lanjut aja ke perahu kertas.
Disini yang menonton lebih banyak keluarga dengan anak-anaknya. Film ini juga adaptasi dari novel karyanya Dee a.k.a Dewi Lestari yang disutradai Hanung Bramantyo.

Scene pembuka membuat saya semangat menonton film ini, yaitu deburan ombak yang di shoot dari bawah sehingga ada efek dekat dari muka kita dan langsung beralih ke pemandangan bawah laut, terumbu karang yang indah dan ikan yang berenang di sekitarnya. Woow.

Akting para pemainnya pun sesuai banget dengan imajinasi saya ketika membaca novelnya. Dee yang juga sebagai penulis skenarionya juga membuat adegan film ini sama, tapi dibuat dengan adanya beberapa kejutan-kejutan dalam adegan  yang membuat saya menjadi berpikir kok beda ya dengan novel tapi ternyata tidak.

Si sutradara yang tampil sebagai cameo di film ini juga mencuri perhatian saya. Sebentar tapi lumayan mengundang senyum bahkan ketawa.

Dan di adegan para tokoh sedang makan di ‘pemadam kelaparan’ mengingatkan saya dengan kantin yang ada di bioskop ini, ya pastinya beda dengan kantin bioskop lainnya.

Akhirnya jam 9 malam, tiba waktunya saya harus pulang, film belum selesai, tapi saya harus pulang sebelum berubah menjadi upik abu di bagian Kugy lagi magang di AdVocado.  Saya pun menuju pintu keluar, namun apa yang terjadi pintunya ditutup. Haaaaaa lewat mana?
Saya lupa kalau film belum selesai pintu keluar pasti belum dibuka dan keluar harus dari pintu masuk tapi saya lupa dimana pintu masuknya. Dan bioskopnya juga beda dari bioskop biasa, mana pintu keluar yang bersamaan dengan toilet prianya gelap. Untung akhirnya ada yang mau pulang juga dan terjebak di pintu keluar yang ditutup itu. Kami bersama-sama mencari pintu keluar dalam kegelapan. Jadi selain ada Kugy, Keenan, Noni, dan Eko, pasti ada pemain figuran lain yang sedang bolak-balik mencari pintu keluar di layar. Dan berakhir kala ada seorang bapak yang menjemput kami dan memberitahu jalan keluar. Tuh kan benar jalan keluarnya tidak biasa. Rasanya sih mungkin si Bapak ini pemilik Buaran ini, bertampang sedikit peranakan dan tidak memakai seragam. Coba saya foto bersama bapak ini, yang kali-kali aja memang pemilik Bioskop yang tidak biasa ini.

Hari ini aku bermimpi,
Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.
Sejak kamu membuatkan ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.
Belum pernah sedekat ini.
Hari ini aku juga bermimpi.
Aku bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.
Bersama kamu, aku ingin memberi  judul bagi buku ini.
Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.


Itinerary Makassar

Kamis, 09 Agustus 2012 | 5 komentar



Jumat, 23 Maret 2012 Pantai Losari
View: Sunset indah di pantai Losari, makan pisang epe
Rute: dari Bandara Sultan Hasanuddin, naik bis Damri bayar Rp 15ribu, turun di shelter kawasan Somba Opu (kawasan oleh-oleh), tinggal berjalan kaki ke Pantai Losari (tanya-tanya orang sekitar banyak yang tahu)
Waktu saya: Kehilangan sunset pantai Losari karena kesana malam hari. Pesawat delay 30 menit, kelamaan foto-foto di bandara Sultan Hasanuddin yang memang keren dan megah, disambut dulu sama teman-teman Makassar Backpacker di markas, baru motoran menuju pantai Losari. Pengalaman bisa naik motor di kota itu. Horor… karena banyak pengemudi yang nggak mematuhi rambu lalu lintas.
Pantai Losari nggak ada apa-apanya, warna air lautnya  juga abu-abu. Tidak ada aktivias renang disini, beberapa meter bibir pantai dimajukan sehingga terkesan pantai ini tidak memiliki pasir pantai
Tapi pantai ini adalah tempat berkumpulnya remaja Makassar, istilahnya tempat nongkrongnya. Anjungan Pantai menjadi spot yang bagus untuk melihat sunset atau sekedar foto-foto. Kemudian nongkrong di pedagang pisang Epe. Harga pisang epe: mulai dari 2.500 tergantung topingnya. Dan tidak terasa disana sampai lewat tengah malam bersama teman-teman Makassar Backpacker.


Sabtu, 24 Maret 2012, Pulau Samalona
View: Pantai indah, spot snorkeling. Ini adalah gugusan kepulauan Sabaluna, jadi banyak ditemukan pulau-pulau kecil disini, seperti pulau kahyangan dan pulau Kodingereng Keke.


Rute: Naik perahu nelayan menuju Pulau Samalona dari Dermaga kayu Bangkoa. Letak Dermaga tidak jauh dari Pantai Losari. Tarif sewa Kapal Rp 350 ribu, muat 8-10 orang
Waktu Saya:  Karena kami cuma berempat dari Pulau Jawa, untuk membuat irit patungan sewa kapal mengajak teman-teman yang lain, kebetulan ada traveler lain dari Jawa yang mau ke Samalona, jadilah kita berlima ditambah dengan dua orang host Makassar, jadi total bertujuh menyeberang sekitar 20 menit menuju pulau Samalona.
Lumayan indah tempatnya, pantai hijau tosca. Tapi sayangnya dibelakang pantai ini sudah banyak sampah yang mengurangi keindahan pantai ini. Bisa snorkeling di tempat ini tapi tidak berani jauh-jauh karena sudah melihat gulungan awan hitam . padahal spot bawah laut yang bagus di dekat mercusuar , karena kami juga tidak menggunakan life jacket. Alat snorkeling bawa sendiri dan pinjam J tapi kalaupun tidak, disini disewakan peralatan snorkeling lengkap, Rp 30 ribu-35 ribu.
Ada penginapan di pulau Samalona, tarif Rp……
Tengah hari kami memutuskan untuk menyudahi petualangan di Samalona karena harus bergegas menuju tanjung Bira, juga karena langit benar-benar menghitam, dan akhirnya ditengah perjalanan laut kembali menuju dermaga Kayu Bangkoa, kami dihantam badai.
Untungya air lautnya tidak benar-benar bergejolak, perahu juga masih tetap pada jaurnya meskipun air hujan banyak memasuki perahu dan kami cuma bisa berdoa selamat sampai di dermaga.


Minggu, 25 Maret 2012, Tanjung Bira
View: Pasir putih halus yang dikenal dengan pasir bedak. Spot snorkeling di pulau Liukang, sewa perahu Rp 300 ribu. Spot Diving di pulau Kambing, sewa perahu Rp 500 ribu dari Tanjung Bira.

Before Sunrise

Pejalanan menuju Tanjung Bira
Maju mundur untuk berangkat ke Tanjung Bira karena transportasi yang mahal, saat itu yang kami tahu untuk menuju kesana harus menyewa mobil, tarif sewa mobil sekali jalan Rp 350 ribu dan kami hanya berempat. Berarti masing-masing kami harus mengeluarkan Rp 87.500 untuk sekali jalan, belum biaya pulang, sewa penginapan, sewa kapal untuk menuju spot snorkeling.  Tapi the show must go on, sudah sampai sini tidak ke Tanjung Bira cuma alasan tariff yang mahal nanti bakal menyesal. Yang penting pergi dulu masalah transport pulang dipikirkan nanti, tidak harus menyewa mobil kan tapi bisa mencari alternative angkutan lain (angkot hanya ada sampai sore)
Dan selalu ada jalan untuk jalan-jalan. Ternyata ada mobil yang mau mengantarkan kami sampai Tanjung Bira dengan tariff PP 100 ribu. Selepas ashar kami berempat berangkat dengan ditemani 1 host teman Makassar.
Rute: Tanjung Bira berada di kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Ini berarti kami sudah keluar dari Kota Makassar, menuju timur wilayah Sulawesi Selatan. Lama perjalanan 6 jam dan akan merasakan asyiknya di perjalanan J, secara tidak langsung akan dibawa menyusuri daerah-daerah di Sulawesi Selatan dan kami menikmati pada perjalanan pulang keesokan harinya.
Fakta: Ternyata mobil Kijang/Panther itu merupakan omprengan antar kota dan Kabupaten.  Tidak perlu menyewa 1 mobil. Mobil ini banyak ditemui di terminal Daya atau bisa janjian dengan supir omprengan untuk menjemput di daerah tertentu. Biasanya omprengan ini hanya mengantarkan sampai ujung Kabupaten Bulukumba dan untuk menuju Tanjung Bira naik angkutan lagi. Tapi bicarakan saja dengan sang supir kalau kita mau sampai langsung di Tanjung Bira. Tarif sekali jalan: Rp 50-60 ribu. Telp. Supir omprengan:


Senin, 26 Maret 2012, Rammang-Rammang

View: Gugusan Karst terluas, Taman Batu, Taman Bidadari (telaga biru yang ada kunang-kunang indah di sore hari J) Bulu Baraka (Goa telapak Tangan, peninggalan Manusia Purba), menikmati sensasi menyusuri sungai asin (view seperti sungai Halong Bay, Vietnam)
Rute: naik petepete ke terminal daya, ongkos Rp 3ribu. Dari terminal Daya, naik pete-pete jurusan pangkep (pete-petenya ada tulisan Pangkep) tarif 9 ribu. Total perjalanan 2 jam.
Tarif: masuk lokasi gratis. Naik perahu 50-150 ribu.
Waktu saya: Dari semua tempat yang saya kunjungi di Sulawesi Selatan, ini yang paling favorit menurut saya, penuh petualangan, penuh hikmah. Kalau tidak mau capek dan mau sampai Bulu Baraka lebih baik langsung menyewa perahu yang menyusuri sungai asin

Selasa, 27 Maret 2012.
Fort Roterdam, Somba Opu dan menghindari aliran massa besar-besaran yang mau Demo BBM
Benteng peninggalan Belanda tempat yang Pangeran Diponegoro ditahan.
Dari sini dekat dengan shelter bus menuju Bandara

PULANG
Dan yang paling mengesankan Trip ke Makassar adalah perjalanannya. Sunyinya tatkala terkena badai Samalona (karena tidak ada yang bersuara semuanya sibuk berdoa), Tricky naik Taksi dari Dermaga Kayu Bangkoa karena tidak ada taksi yang mau mengangkut kami yang basah kuyup. Heboh selama 6 jam perjalanan menuju Tanjung Bira karena belum dapat penginapan, kejar-kejaran dengan waktu di Tanjung Bira, terkena sengatan bulu Babi, kehilangan bungkusan yang berisi pakaian dan uang, sandal gunung copot di Ramman-rammang. Merelakan 1 itin ke karena menghindari massa yang akan demo besar-besaran untuk kenaikan BBM, dan yang paling mengebohkan adalah perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, hhohoh tidak cukup untuk menceritakan itu semua.
Terima kasih untuk teman-teman rempong di Makassar: Tulus Traveller (Surabaya), Shelina Ariastari (Malang), Dungga Frederich (Jakarta), juga teman di Samalona Andreas Setiawan (Jember).
Dan Tak lupa ucapan terima kasih untuk host-host dari Makassar Backpacker: Ridho Amal, Fatih Ibrahim, Ella Ekatarina, Azlam Nass

BADUY DALAM: KEPALA SUKU, NYAMUK, DAN BINTANG JATUH

Minggu, 08 Juli 2012 | 0 komentar



Beda perjalanan, beda pula ceritanya

Ini cerita lain tentang Baduy, sebuah suku pedalaman yang mendiami Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Cerita ini pun dituturkan oleh teman yang berbeda perjalanan dengan saya saat trip ke Baduy.

Taman saya ini pergi di saat musim panen yang sebenarnya tertutup untuk umum. Lho kok bisa pergi kesana. Ya dikiranya teman saya dan rombongannya ini memang ada keperluan khusus dengan kepala suku, maka bisa diterimalah romongan ini.

Maka di hari Minggu pagi itu berbondong-bondonglah rombongan teman ke tempat kepala suku dengan membawa oleh-oleh, seperti kain kafan, menyan, dan sirih ( yang sebelumnya sudah diberitahu kalau harus membawa ini jika ingin menghadap kepala suku). Agak horor juga sih, tapi itulah budaya pada masyarakat Baduy Dalam.

Tempat kepala suku agak berbeda dengan rumah-rumah penduduk Baduy dalam lainnya yang berderet. Rumahnya agak menyendiri dan menghadap ke arah yang berbeda. Saya pun melihatnya saat trip kemarin, meskipun pada saat itu hanya bisa melihat dari kejauhan. Karena memang tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan kepala suku . Lalu kenapa teman saya bisa, ya itu tadi karena dikiranya ada keperluan khusus. Padaha sih sebenarnya nggak, murni cuma traveling saja.

Gambaran dalam rumahnya itu seperti yang dituturkan teman saya itu, tidak jauh beda dengan rumah-rumah dukun yang ada di TV-tv. Pakaian si dukun… sedangkan di belakan g kepala suku ada sang istri yang sibuk bermain-main dengan kucingnya.

Pertanyaan yang pertama keluar dari mulut sang kepala suku adalah “ Ada keperluan apa?”
Karena memang tidak ada keperluan –keperluan khusus, makanya teman dan rombongannya hanya menjawab semoga mereka selamat dan sehat sampai di rumah nanti. Selesainya pun teman dan rombongan di beri oleh-oleh semacam minyak wangi yang kegunaanya untuk..
Banyak orang yang datang memang ada keperluan khusus, jangan salah artis-artis baru yang ingin terkenal juga sering mendatangi kepala suku di Baduy dalam ini, rela berjalan belasan kilometer hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak hanya itu beberapa nama politisi juga tersebut pernah menemui kepala suku Baduy dalam ini.

Kalau kalian sudah pernah menginap semalam saja di Baduy dalam perhatikan deh nyaris tidak ada nyamuk disana. Iya juga ya saya jadi mengingat-ingat ketika teman menanyakan pertanyaan itu. Tidak ada nyamuk, apalagi kecoa di rumah-rumah suku baduy. Dan kali tempat kami buang air pun bersih tidak ada hewan-hewan yang menjijikan.

Kenapa begitu, jawabannya adalah bahwa penduduk Baduy Dalam mengumpulkan hewan-hewan tersebut di satu tempat. Bagimana caranya? Tidak tahu J  Bahkan setan pun ditempatkan di satu tempat sehingga tidak berkeliaran. Jadi penduduk baduy tidak pernah melihat wujud yang namanya setan seperti kuntilanak, pocong,dan genderuwo , apalagi suster ngesot dan suster keramas.

Makannya kalau kita menemukan sign dilarang masuk, ya lebih baik patuh pada larangan itu karena mungkin disitulah letak setan-setan, nyamuk, kecoa, dll dikumpulkan.

Dan yang menarik lagi jika berkunjung ke Baduy Dalam, bangunlah pada jam 3 dini hari. Kemudian keluar rumah dan menengadahlah.  Akan ada pemandangan spektakuler, yaitu bintang jatuh .  Bayangkanlah adegan seperti di drama Meteor Garden.
Seperti apa rasanya heheh tidak bsa difoto karena Baduy dalam terlarang untuk hal-hal seperti itu,, Jika ingin merasakan sensasinya datang saja ke perkampunan Baduy Dalam, desa Kanekes….


Ada Super Junior di Baduy Dalam

Rabu, 20 Juni 2012 | 0 komentar


Sudah lewat maghrib ketika kami sampai di desa Cibeo, tempat bermukimnya penduduk dari suku Baduy dalam. Ini adalah perkampungan Baduy dalam yang letaknya paling dekat dari Baduy luar. Paling dekat disini hitungannya telah melewati 4 bukit 3 lembah sejauh 12 km, dan telah memakan 1 korban kaki kram tapi masih bisa melanjutkan perjalanan, namun 1 orang lainnya terpaksa turun lagi ke desa Cibolegar (desa paling luar), untung masih di awal perjalanan dan kami mengikhlaskannya dengan berat hati.

Dari Baduy luar ke Baduy dalam kami memang harus berjalan kaki. Permasalahannya bukan karena tidak ada ojek yang bisa mengantarkan,namun karena dalam radius beberapa kilometer itu tidak boleh ada kendaraan beroda yang lewat. Kini,tersisa 19 orang perempuan perkasa :) dan 2 orang pemandu jalan yang beberapa langkah lagi akan merasakan hidup bersama suku Baduy dalam. Seluruh kamera kami masukan dan handphone pun dimatikan, karena desa Baduy dalam terlarang untuk benda-benda seperti itu dan kami pun mematuhinya.

Dag..dig…dug…dag..dig…dug
Duh perasaan saya  campur aduk karena akan segera bertemu dengan suku yang termasuk primitive dengan segala larangan-larangannya. Rombongan dibagi 2 yang akan bermalam di 2 rumah yang berbeda. Saya dan kesembilan teman perempuan yang satu kelompok segera memasuki sebuah rumah yang ditunjuk, rumah paggung yang bahan bangunannya terbuat dari kayu tanpa paku. Silahkan pikirkan bagaimana rumah ini bisa berdiri tanpa paku.

Suasana temaram, karena hanya diterangi dengan lilin menyambut kami memasuki rumah paggung , sangat membantu untuk menutupi muka-muka yang kucel. Selain kami ternyata sudah ada rombongan lain di rumah itu.

“ Selamat datang teman-teman, sory rumahnya seperti ini.”  Sambut seseorang. Kang Uci, guide kami pun memperkenalkan bahwa dia adalah anak pemilik rumah ini yang tidak lain adalah suku dari Baduy dalam.

Whaaaaaaaaaaaaaaat
Untungnya saya berteriak dalam hati jadi nggak bikin heboh.  Itu suku Baduy dalamnya. Saya mereview lagi ucapannya barusan ada kata-kata Sory, sebuah kata dalam bahasa Inggris. Wow, ternyata kami tidak perlu penterjemah untuk berkomunikasi dengan mereka, padahal sebelumnya kami membahas dengan bahasa apa kami berkomunikasi, karena mereka berbicara dengan bahasa Sunda yang sulit dimengerti. Dan sekarang jangankan bahasa Indonesia, mereka pun bisa berbahasa asing.

Penjelasan kang Uci pun melepaskan rasa penasaran saya, bahwa beberapa dari mereka sudah bisa berbahasa Indonesia.

“Pokoknya tanya aja apa yang mau ditanyakan. Ganteng kan?” kata kang Uci lagi.
Dan saya pun jadi merhatikan sosok yang memakai baju putih di depan saya. Iyah beneran ganteng. Dan saya nggak menyangka kalau dia adalah suku Baduy dalam. Saya mulai mencari-cari pembandingnya. Wah kalau begini sih boyband Smash juga lewat. Cari-cari lagi pembandingnya. Siwon Super Junior.. yup kayaknya ini yang tepat untuk menggambarkannya. Padahal saya juga nggak tau Siwon Suju yang mana. Tapi pernyataan saya tidak dibantah oleh seorang teman. Beneran mirip Siwon Suju. Hehehe. Aduh ternyata ada Super Junior di Baduy dalam.

Bersambung ahhhhh……………

Lontong Kupang yang Bukan dari Kupang, NTT

Senin, 11 Juni 2012 | 2 komentar

Membaca tulisan Lontong Kupang, mungkin langsung menebak bahwa ini adalah makanan khas kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Namun ternyata bukan.

Lontong Kupang adalah makanan Khas Sidoarjo atau bisa juga ditemukan di Surabaya. Kupang yaitu  hewan laut seperti kerang dan bentuknya kecil –kecil. Dan yang untuk kuliner ini adalah kupang putih nama kerennya Corbula faba H. Kalau diperhatiin sih si kupang ini nggak putih-putih amat, namun cenderung coklat sesudah atau sebelum dimasak, namun ketika sudah dimasak bagian kepalanya berwarna hitam.

Kupang ini hanya ditemukan di perairan Sidoarjo, makannya menjadi makanan khas Sidoarjo dan tidak ditemukan di tempat lain, kecuali tetangganya seperti Surabaya.

Agak meringis saat pertama kali menncicipi makanan ini karena rasanya agak asam-asam. Namun rasa asam ini bukan berasal dari kupangnya, namun dari kuahnya yang memang dipakaikan jeruk nipis. Selain itu kuah lontong Kupang ini juga diberi petis, bumbu khas Jawa Timur.

Rasa lainnya ketika memakan makanan ini, agak gerenjel-gerenjel (bahasa apa tuh) saat kupangnya memasuki mulut.  Saya memakan makanan ini bersama sahabat bromo di Sidoarjo

Sebagai pelengkap, bisa menyantapnya dengan sate kerang (lagi-lagi kerang) dan kelapa muda bulat.

Harga

Rp 7000/porsi


Oleh-oleh Badung: Klappertaart DenHaag


Sebenarnya ini bukan panganan asli Bandung, tapi apa sih yang nggak ada di Bandung, surganya kuliner. Klappertaart adalah makanan asli dari Manado, Sulawesi utara. Makanan ini merupakan sentuhan Kolonial saat berkuasa disana, namanya aja kan berbau-bau Londo.

Klapertart berbahan dasar kelapa muda yang diiris tipis dan direbus, lalu dicampur dengan adonan mentega, susu, dan terigu. Kemudian dikukus. Namun ada juga klapertart yang dipanggang, salah satunya klappertart Deenhag ini, (meslipun ada juga yang dikukus).

Toping atasnya bermacam-macam, ada yang diberi kismis, kenari, kacang mete, keju, atau kelapa muda seperti bahan dasarnya.

Klapertaart ini tahan selama 4 hari bila disimpan didalam kulkas. Dan lebih tahan lama yang dipanggang daripada yang dikukus, kata mbak penjualnya.  Yang panggang tahan bila tidak dimasukkan ke dalam kulkas. Tapi memang enak dimakan dikala dingin, kelapa mudanya terasa dingin.

Klappertaart ini bisa ditemukan di daerah Dago lebih tepatnya di Jalan RE. Martadinata no. 22. Awalnya saya juga nggak sengaja ke tempat ini, padahal mau beli oleh-oleh khas Bandung yang sudah terkenal, tapi ternyata makanan ini pun sudah menjadi oleh-oleh yang cukup digemari sejak beberapa tahun lalu,

Harga:
Klappertart panggang 43.000/loyang

Rafting di Sungai Pekalen

Kamis, 31 Mei 2012 | 0 komentar


Ini rangkaian pertama saya dalam perjalanan menuju Gunung Bromo, yaitu menyempatkan untuk merasakan rafting atau bermain Jeram di sungai yang bernama Pekalen - Probolinggo, Jawa Timur.

Dari Surabaya, kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai tempat tersebut, pakai acara nyasar pula, jadi ada ekstra waktu nyasar. Pokoknya nggak ada nyasar nggak rame. Seru juga sih perjalanannya, apalagi semobil bersama kelima orang dari berbagai daerah yang baru dikenal hari itu juga. Nggak nyangka bisa langsung klop dengan mereka-mereka itu, apapun diceritakan di mobil dengan logat Jawa berganti logat sunda, atau logat Jakarta yang diJawa-jawain, dan yang nggak klop ngomong lo gue dengan logat Jawa maksa. Haha guys inget nggak kejadian ini, sumpah kalau ingat itu pasti akan senyum-senyum sendiri.

Rafting di Pekalen terbagi 2, yaitu pekalen atas dengan jarak tempuh 12 km dan pekalen bawah sepanjang 7 km. Dan yang dipilih adalah rafting di pekalen atas yang akan memakan waktu 3 jam.

Satu perahu karet hanya diisi  3-4  orang plus 1 orang guide.  Sebelum rafting, dijelaskan aba-aba rafting, yaitu Boom, agar kita menunduk, dayung maju, dayung mundur, dll.
Ini pertama kalinya saya merasakan yang namanya Rafting, lumayan tegang dan was-was akan kuat nggak staminanya, ditambah stamina sudah lumayan terkuras untuk tertawa di dalam mobil yang membuat sakit perut. Dan ketegangan saya dimanfaatkan oleh guidenya…hmmmmm

Sungai pekalen tidak begitu lebar, baru beberapa menit berjalan, saya sudah melihat air yang terjun indah dari atas. Katanya sih sungai ini memiliki 10 air terjun. Silahkan hitung sendiri ya kalau kalian berkesempatan ke tempat ini. Saya sendiri tidak sempat menghitung karena bisa tiba-tiba dalam perjalanan ada jeram yang membuat perahu berubah arah dan membuat kita harus konsentrasi mengikuti aba-aba guidenya kalau nggak mau kepala kepentok batu-batu karang atau tebing air terjun. Whoooo seru! apalagi kalau masuk ke dalam air terjunnya.


masuk ke belakang air terjun
Untuk Jeram, sungai yang airnya berasal dari mata air Gunung Argopuro ini memiliki 55 jeram. Hitung sendiri lagi aja yah. Yang mana sih yang dimaksud jeram, pokoknya kalau kita teriak karena perahu meliuk-liuk atau tiba-tiba kita harus melalui turunan itulah yang dinamakan jeram.
foto di bawah air terjun, di belakangnya goa kelelawar 
Dan ini ritual terakhir rafting pekalen, terjun dari tebing setinggi 4m. Ahhhh kecil, wqwqwqwq, tapi sumpah coba aja dan ini ekspresi-ekspresi ketakutan tapi menyenangkan.

kelihatannya pendek, tapi.......


Untuk terjun menerjun ini tidak sembarangan tempat, guidenya sudah memastikan kedalaman air di tempat kita terjun, sehingga aman bila kita akan terjun.

Rafting selesai ditutup dengan perpisahan dari jeram yang bernama jeram inul, sensasinya katanya sih seperti berjoget inul, tapi menurut saya kayak apa yaaa…


 
Copyright © -2012 Alamat Senja All Rights Reserved | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks